https://tpc.googlesyndication.com/simgad/14857051581796132365?
https://tpc.googlesyndication.com/simgad/14857051581796132365?

Amerika Serikat Resmi Serang Iran, Teheran: Ini Akhir Diplomasi

redaksi

Teheran – Amerika Serikat resmi terlibat langsung dalam konflik bersenjata melawan Iran, setelah Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama milik Teheran, Ahad lalu. Serangan tersebut menandai eskalasi signifikan dalam perang yang sebelumnya terbatas antara Israel dan Iran.

Melalui akun media sosialnya, Trump menyebut serangan itu sebagai “keberhasilan militer yang spektakuler” dan mengklaim telah menghancurkan total infrastruktur pengayaan nuklir Iran. Namun, laporan dari lapangan serta citra satelit menunjukkan hasil yang berbeda: dua lokasi yang diserang—Esfahan dan Natanz—telah dikosongkan sejak serangan Israel pada Jumat sebelumnya. Satu-satunya target baru, fasilitas bawah tanah Fordow, hanya mengalami kerusakan ringan di salah satu pintu masuknya.

“Yang dihancurkan Amerika bukanlah fasilitas nuklir kami, melainkan diplomasi,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Ankara, Turki.

Menurut Araghchi, sebelum perang pecah, Iran dan Amerika Serikat tengah menjajaki perundingan nuklir secara tidak langsung.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth dalam pernyataan terpisah mengklaim Washington tidak berniat memperluas konflik.

“Kami telah menyampaikan pesan langsung ke Teheran untuk kembali ke meja perundingan,” ujarnya. Namun, Iran menanggapi pesan tersebut dengan skeptis. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, “Serangan langsung ini membuktikan siapa pemicu perang sebenarnya.”

Menurut data Kementerian Kesehatan Iran, serangan udara sejak awal konflik telah menewaskan lebih dari 400 warga sipil dan melukai 2.000 lainnya. Suasana di kota-kota besar seperti Qom dan Teheran tetap tegang namun belum menunjukkan gejala kepanikan massal. Laporan Tempo dari Qom menyebutkan aktivitas warga berlangsung nyaris normal.

Di dalam negeri, Iran kini berada dalam kondisi siaga penuh. Komando tertinggi militer telah mengatur rotasi kepemimpinan usai tewasnya sejumlah jenderal akibat serangan awal Israel. Analis militer menyebut pergantian ini membawa pendekatan lebih agresif dalam strategi balasan Iran, yang hingga kini telah menghujani wilayah Israel dengan rudal dan drone.

Ketegangan juga meningkat di kawasan Teluk. Sejumlah negara—di antaranya Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, dan Turki—mengeluarkan pernyataan bersama menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan Amerika terhadap Iran.

“Konflik ini telah mendorong kawasan ke jurang perang regional,” demikian isi pernyataan Kementerian Luar Negeri Oman.

Iran memiliki beberapa opsi balasan terhadap Amerika, mulai dari serangan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah—yang jumlahnya mencapai 19 dan menampung sekitar 50 ribu personel—hingga penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi seperempat pasokan minyak dunia. Perubahan terhadap kebijakan nuklir juga menjadi kemungkinan, meskipun Iran sejauh ini masih menyatakan komitmennya terhadap Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).

Fars News melaporkan bahwa militer Iran telah bersiap menghadapi perang berkepanjangan yang diperkirakan bisa berlangsung hingga enam bulan.

 

Sumber: Tehran Times

 

 

banner 325x300
Editor: Eng