JAKARTA – Angka ini bikin kaget sekaligus prihatin. Per Februari–Maret 2025, jumlah pengangguran di Indonesia menembus 7,28 juta orang. Yang lebih memukul, 3,6 juta di antaranya adalah generasi muda yang seharusnya menjadi tumpuan masa depan bangsa.
Tingkat pengangguran nasional kini berada di 4,7 persen, dan itu menjadikan Indonesia pemegang rekor pengangguran tertinggi di Asia Tenggara, mengungguli negara-negara lain di kawasan.
Laporan Trading Economics mengungkapkan, bahkan Filipina—dengan populasi hampir sama—mencatat hanya 3,7 persen. Artinya, selisih hampir satu poin persentase itu adalah jutaan nyawa yang kini terjebak tanpa pekerjaan.
Ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Bima Setiawan, menilai situasi ini ibarat bom waktu.
“Tingginya pengangguran muda adalah ancaman nyata. Jika tak ada langkah cepat, bonus demografi bisa berubah jadi bencana demografi,” tegasnya.
Pemerintah memang berjanji menekan angka pengangguran lewat pelatihan vokasi, UMKM, hingga insentif investasi padat karya. Tapi para pengamat mengingatkan, tanpa reformasi serius di pendidikan dan pelatihan kerja, upaya itu hanya jadi tambal sulam.
Kini, Indonesia dihadapkan pada pilihan: bergerak cepat menciptakan lapangan kerja, atau bersiap menanggung ledakan masalah sosial dan ekonomi di masa depan.***












