https://tpc.googlesyndication.com/simgad/14857051581796132365?
https://tpc.googlesyndication.com/simgad/14857051581796132365?

Tim Sar Jambi Kejar Korban di Lembah Anai

redaksi

Sumbar — Dentuman hujan dan gemuruh material longsor masih membayangi dua titik bencana paling mencekam di Sumatera Barat. Di tengah cuaca buruk dan medan yang nyaris tak bersahabat, Tim Kantor SAR Jambi bersama Tim SAR gabungan terus berpacu melawan waktu, berjuang menjemput harapan di balik lumpur, puing, dan arus deras yang merenggut puluhan nyawa.

Operasi pencarian dan pertolongan di kawasan Lembah Anai, Padang Panjang, memasuki hari ketiga, Sabtu (29/11/2025). Hujan lebat tak kunjung reda, membuat sungai kembali meluap dan lumpur mengalir tanpa ampun. Namun, para rescuer tetap menembus gelap dan dingin, menyisir setiap celah yang mungkin menyimpan tanda-tanda kehidupan.

Data sementara mencatat duka mendalam: 11 orang ditemukan meninggal dunia di wilayah Kayu Tanam, 24 lainnya luka-luka—termasuk satu luka berat dan satu luka ringan—sementara 34 orang masih dinyatakan hilang, di antaranya 11 warga Padang Panjang. Lebih dari itu, bencana ini meluluhlantakkan kehidupan sedikitnya 503 kepala keluarga. Sebanyak 1.072 warga terpaksa mengungsi, tersebar di 11 titik pengungsian yang kini menjadi saksi bisu kisah kehilangan, doa, dan air mata.

“Ini bukan sekadar operasi, ini pertempuran dengan alam,” ujar salah satu personel di lokasi dengan napas tersengal, sepatu penuh lumpur, dan mata merah menahan lelah. Unsur yang terlibat bak pasukan dalam satu barisan: Tim Rescue SAR Jambi, Pos SAR 50 Kota, Polres Padang Panjang, Batalyon 131 Padang Panjang, Damkar, BPBD, Dinas Sosial, PMI, hingga relawan. Koordinasi dilakukan tanpa henti, laporan dihimpun setiap jam, dan setiap detik menjadi taruhan antara hidup dan mati.

Duka di Lembah Anai berkelindan dengan tragedi di Tanah Datar. Longsor menggulung sebuah jorong, menelan empat warga. Tiga korban—Ermanto (53), Saparman (65), dan Ahmad Rusdi (50)—telah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Satu nama masih menggantung di antara doa dan pencarian: Muhammad Rusdi (54). Operasi hari pertama pascakejadian (H+1) menjadi pertaruhan terakhir untuk memecah sunyi yang menyelimuti lokasi longsor.

Di Tanah Datar, medan terjal menjadi lawan yang sama bengisnya. Alat berat tak mampu menembus akses sempit dan curam. Tim dipaksa bekerja dengan tangan, cangkul, dan harapan. Rescue car, peralatan vertical rescue, chainsaw, pompa air, perangkat medis, dan alat komunikasi dikerahkan. Namun yang paling menentukan adalah keteguhan para penolong yang menggali reruntuhan satu demi satu.

Hingga berita ini diturunkan, tangis keluarga belum surut, dan doa tak putus dilantunkan. Tim SAR gabungan tetap berjaga, menolak menyerah, mengukir tekad di antara hujan dan gelap: operasi akan terus berjalan sampai korban terakhir ditemukan dan masa darurat dapat dituntaskan.***

banner 325x300
Penulis: EngEditor: Hendri Rosta