GAZA – Salah satunya Khaled Obaid. Dua bulan terakhir, ia mencari putranya, Ahmed, di jalan pesisir Deir-el-Balah. Ahmed meninggalkan tenda pengungsian untuk mengambil makanan di titik penyeberangan Zikim, jalur masuk bantuan ke Gaza utara.
“Dia belum kembali sampai sekarang. Dia pergi karena lapar. Kami tidak punya apa-apa untuk dimakan,” kata Khaled, sambil terisak di bawah terpal biru yang menjadi tempat tinggal sementara keluarganya.
Upaya Khaled melapor ke Komite Palang Merah Internasional dan lembaga resmi tak membuahkan hasil. Hingga kini, tak ada informasi tentang keberadaan Ahmed.
Fenomena ini bukan kasus tunggal. Di tengah blokade Israel yang memaksa jutaan warga Gaza mengungsi, banyak orang nekat ke titik distribusi bantuan, meski tahu risikonya. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kelompok hak asasi manusia menyebut lokasi bantuan itu sebagai “jebakan maut” dan “rumah jagal manusia”.
Data PBB mencatat hampir 1.400 orang tewas sejak titik distribusi mulai beroperasi pada akhir Mei. Sebagian besar korban ditembak di lokasi bantuan dan sepanjang jalur konvoi makanan oleh tentara Israel dan kontraktor keamanan Amerika Serikat. Jumlah itu belum termasuk mereka yang hilang, seperti Ahmed.
“Dalam banyak kasus, mereka yang hilang tampaknya dibunuh di dekat titik distribusi bantuan, tetapi jenazah mereka tak bisa dijangkau akibat tembakan Israel, “kata Maha Hussaini, Kepala Media Euro-Med Human Rights Monitor.
Situasi ini membuat Gaza berada di ujung krisis kemanusiaan. Di Gaza, batas antara bertahan hidup dan menghilang kini begitu tipis.***












